“Not learning to do before, but the study while conducting”
“Bukan belajar sebelum melakukan, tapi belajarlah sambil melakukan”
(Mario Teguh)
13 Juli 2009
18 April 2009
Menghilangkan Rasa Malas
Malas, merupakan salah satu penyebab negara Indonesia ini tertinggal dengan negara lain khususnya hubungannya dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai contoh janganlah jauh-jauh dahulu ke Eropa, tapi yang dekat terlebih dahulu seperti Malaysia ataupun Singapura yang secara geografis luas negaranya maupun kekayaan alamnya jauh berbeda dengan Indonesia namun jauh berbeda pula dalam hal "manusianya", padahal dulu pelajar maupun guru-guru dari Malaysia datang ke Indonesia ini untuk belajar memperdalam ilmunya.
Malas bisa berarti banyak hal, malas belajar (umum terjadi pada pelajar) ataupun malas dalam lingkup yang universal yaitu malas dalam mengerjakan sesuatu Tapi memang rasa malas sudah merupakan fitrah dari Tuhan dan kita harus yakin bahwa pemberian Tuhan itu selalu ada manfaatnya, hanya saja permasalahannya terletak pada bagaimana kita mengatasi rasa malas tersebut, mencoba mengambil manfaat atau hikmah dari penanganan rasa malas kita dan belajar melihat dari sudut pandang yang lebih baik.
Malas itu bisa diibaratkan seperti keimanan kita yang ada kalanya meningkat dan ada kalanya menurun. Tapi ternyata kalau dilatih terus menerus dan teratur keimanan itu bisa meningkat atau setidaknya tidak menurun. Nah..begitupun dengan malas, dengan cara teratur diikuti dengan kekonsistenan kita mengerjakan metode atau cara mengatasi rasa malas, rasa malas bisa di atasi dan bukan tak mungkin bisa berubah menjadi rajin.
Rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll. Jika keluarga besar dari rasa malas ini mudah sekali muncul dalam aktivitas sehari-hari kita, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Bahkan bisa jadi kita tidak pernah bisa mencapai sesuatu yang lebih baik sebagaimana yang kita inginkan.
Rasa malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental. Mengapa disebut penyakit mental? Disebut demikian karena akibat buruk dari rasa malas memang sangat merugikan. Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat merugikan. Sukses dalam karir, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu-individu yang malas tidak jelas tidak akan pernah maju.
Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Rasa malas jenis yang satu ini relatif lebih bisa ditanggulangi. Nah, bagaimana cara mengatasinya? Berikut kiat-kiatnya:
Membuat Tujuan
Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-tujuan hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan resolusi atau komitmen-komitmen pencapaian hidup.
Di sinilah pangkal persoalannya. Tanpa tujuan, resolusi, atau komitmen-komitmen pencapaian hidup, maka seseorang hanya bergerak secara naluriah dan sangat rentan diombang-ambingkan situasi di sekelilingnya. Posisi seperti ini membuatnya menjadi pasif, menunggu, tergantung pada situasi, dan cenderung menyerah pada nasib. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada motivasi untuk meraih atau mencapai sesuatu. Tidak adanya sumber-sumber motivasi hidup menyebabkan kemalasan.
Supaya motivasi muncul, seseorang harus berani memutuskan tujuan-tujuan hidupnya. Menurut Andrias Harefa dalam bukunya Agenda Refleksi dan Tindakan Untuk Hidup Yang Lebih Baik (GPU, 2004), dia harus membuat komitmen atas apa saja yang ingin diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan, dan dinikmati (disingkat secamilanik). Contoh komitmen; "pada ulang tahun yang ke .... saya sudah harus menyelesaikan buku yang saya tulis, meraih promosi pekerjaan, memiliki rumah dan mobil, umroh, naik haji, melakukan sejumlah kunjungan ke mancanegara, dan menikmati kebahagiaan bersama keluarga."
Mengasah Kemampuan
Orang yang memiliki tujuan-tujuan hidup yang pasti, membuat resolusi dan komitmen-komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi tinggi. Tetapi tujuan yang samar-samar jelas tidak memberikan dampak motivasional yang signifikan. Nah, akan lebih baik lagi jika tujuan-tujuan dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti mencari cara-cara yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Kita juga perlu sekali mengasah kemampuan atau ketrampilan-ketrampilan supaya langkah-langkah yang diambil itu akan membawa kita pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
Contoh: jika pada tahun yang sudah ditargetkan kita ingin menjadi konsultan, maka sejak sekarang aktivitas-aktivitas kita sudah harus difokuskan ke arah tujuan tersebut. Kita harus terus mengasah kemampuan mendiagnosa masalah, menemukan penyebab, menganalisis, mengkomunikasikan gagasan, menawarkan solusi, dan memperbaiki kemampuan presentasi.
Jika aktivitas-aktivitas pembelajaran itu dilakukan secara konsisten dan dengan komitmen sepenuhnya, maka kita telah berada di jalur yang benar. Aktivitas-aktivitas pembelajaran akan menempatkan kita pada posisi dan lingkungan yang dinamis. Kemampuan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah juga akan meningkat. Dengan sendirinya ini akan semakin memperkuat rasa percaya diri kita, menebalkan komitmen pencapaian tujuan, dan tentu saja menumbuhkan semangat.
Sebaliknya, jika kita sama sekali menolak aktivitas-aktivitas pembelajaran, komitmen akan semakin melemah, semangat turun, dan kemalasan akan datang dengan cepat. Pada titik ini, tujuan-tujuan, resolusi atau komitmen yang sudah kita buat sudah tidak memiliki arti lagi. Sayang sekali.
Pergaulan Dinamis
Para pemenang berkumpul dengan sesama pemenang, sementara para pecundang cenderung berkumpul dengan sesama pecundang. Ungkapan tersebut mengandung kebenaran. Sulit sekali bagi seorang pemalas untuk hidup di lingkungan para pemenang. Sulit bagi orang malas untuk berada secara nyaman di tengah-tengah orang yang sangat optimis, sibuk, giat bekerja, dan bersemangat mengejar prestasi. Demikian sebaliknya. Sulit sekali bagi para high achiever untuk betah berlama-lama dengan para orang malas dan pesimistik.
Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa enggan, apalagi negative thinking. Sepintas, berkeluh kesah dengan mereka dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan total.
Jika rasa malas mulai menyerbu kita, jangan berlama-lama duduk berdiam diri. Cara paling ampuh menghilangkan kemalasan adalah bangkit berdiri dan menghampiri orang-orang yang sedang tekun dan bersemangat melakukan sesuatu. Dekati mereka yang sedang bekerja keras untuk meraih impian-impiannya. Manusia-manusia optimis, self- motivated, punya ambisi, positive thinking, dan memiliki tujuan hidup pasti, umumnya memancarkan aura positif kepada apa pun dan siapa pun di sekelilingnya. Pancaran optimisme dan semangat itulah yang bisa menginspirasi orang lain, bahkan menularkan semangat yang sama sehingga orang lain jadi ikut tergerak.
Disiplin Diri
Ada sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya dari Andrie Wongso, Motivator No.1 Indonesia, yang bunyinya; "Jika kita lunak di dalam, maka dunia luar akan keras kepada kita. Tapi jika kita keras di dalam, maka dunia luar akan lunak kepada kita". Kata-kata mutiara yang luar biasa ini menegaskan, bahwa jika kita mau bersikap keras pada diri sendiri, dalam arti menempa rasa disiplin dalam berbagai hal, maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik. Sikap keras pada diri sendiri atau disiplin itulah yang umumnya membawa kesuksesan bagi karir para olahragawan dan pekerja profesional yang memang menuntut sikap disiplin dalam banyak hal. Bayangkan, bagaimana seorang atlet bisa menjadi juara jika dia tidak disiplin berlatih? Bagaimana mungkin ada pekerja profesional yang bagus karirnya jika dia sering mangkir atau bolos kerja?
Sebaliknya, jika kita terlalu lunak atau memanjakan diri sendiri, memelihara kemalasan, mentolerir kinerja buruk, tidak merasa bersalah jika lalai atau gagal dalam tugas, maka dunia luar akan sangat tidak bersahabat. Olahragawan yang manja pasti tidak akan pernah jadi juara. Seorang sales yang malas tidak akan pernah besar penjualannya. Seorang konsultan yang menolerir kinerja buruk pasti ditinggalkan kliennya. Dan pekerja yang tidak disiplin pasti mudah jadi sasaran PHK. Jika kita lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras pada kita.
Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas.
Sumber : www.e-smartschool.com
Malas bisa berarti banyak hal, malas belajar (umum terjadi pada pelajar) ataupun malas dalam lingkup yang universal yaitu malas dalam mengerjakan sesuatu Tapi memang rasa malas sudah merupakan fitrah dari Tuhan dan kita harus yakin bahwa pemberian Tuhan itu selalu ada manfaatnya, hanya saja permasalahannya terletak pada bagaimana kita mengatasi rasa malas tersebut, mencoba mengambil manfaat atau hikmah dari penanganan rasa malas kita dan belajar melihat dari sudut pandang yang lebih baik.
Malas itu bisa diibaratkan seperti keimanan kita yang ada kalanya meningkat dan ada kalanya menurun. Tapi ternyata kalau dilatih terus menerus dan teratur keimanan itu bisa meningkat atau setidaknya tidak menurun. Nah..begitupun dengan malas, dengan cara teratur diikuti dengan kekonsistenan kita mengerjakan metode atau cara mengatasi rasa malas, rasa malas bisa di atasi dan bukan tak mungkin bisa berubah menjadi rajin.
Rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll. Jika keluarga besar dari rasa malas ini mudah sekali muncul dalam aktivitas sehari-hari kita, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Bahkan bisa jadi kita tidak pernah bisa mencapai sesuatu yang lebih baik sebagaimana yang kita inginkan.
Rasa malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental. Mengapa disebut penyakit mental? Disebut demikian karena akibat buruk dari rasa malas memang sangat merugikan. Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat merugikan. Sukses dalam karir, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu-individu yang malas tidak jelas tidak akan pernah maju.
Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Rasa malas jenis yang satu ini relatif lebih bisa ditanggulangi. Nah, bagaimana cara mengatasinya? Berikut kiat-kiatnya:
Membuat Tujuan
Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-tujuan hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan resolusi atau komitmen-komitmen pencapaian hidup.
Di sinilah pangkal persoalannya. Tanpa tujuan, resolusi, atau komitmen-komitmen pencapaian hidup, maka seseorang hanya bergerak secara naluriah dan sangat rentan diombang-ambingkan situasi di sekelilingnya. Posisi seperti ini membuatnya menjadi pasif, menunggu, tergantung pada situasi, dan cenderung menyerah pada nasib. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada motivasi untuk meraih atau mencapai sesuatu. Tidak adanya sumber-sumber motivasi hidup menyebabkan kemalasan.
Supaya motivasi muncul, seseorang harus berani memutuskan tujuan-tujuan hidupnya. Menurut Andrias Harefa dalam bukunya Agenda Refleksi dan Tindakan Untuk Hidup Yang Lebih Baik (GPU, 2004), dia harus membuat komitmen atas apa saja yang ingin diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan, dan dinikmati (disingkat secamilanik). Contoh komitmen; "pada ulang tahun yang ke .... saya sudah harus menyelesaikan buku yang saya tulis, meraih promosi pekerjaan, memiliki rumah dan mobil, umroh, naik haji, melakukan sejumlah kunjungan ke mancanegara, dan menikmati kebahagiaan bersama keluarga."
Mengasah Kemampuan
Orang yang memiliki tujuan-tujuan hidup yang pasti, membuat resolusi dan komitmen-komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi tinggi. Tetapi tujuan yang samar-samar jelas tidak memberikan dampak motivasional yang signifikan. Nah, akan lebih baik lagi jika tujuan-tujuan dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti mencari cara-cara yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Kita juga perlu sekali mengasah kemampuan atau ketrampilan-ketrampilan supaya langkah-langkah yang diambil itu akan membawa kita pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
Contoh: jika pada tahun yang sudah ditargetkan kita ingin menjadi konsultan, maka sejak sekarang aktivitas-aktivitas kita sudah harus difokuskan ke arah tujuan tersebut. Kita harus terus mengasah kemampuan mendiagnosa masalah, menemukan penyebab, menganalisis, mengkomunikasikan gagasan, menawarkan solusi, dan memperbaiki kemampuan presentasi.
Jika aktivitas-aktivitas pembelajaran itu dilakukan secara konsisten dan dengan komitmen sepenuhnya, maka kita telah berada di jalur yang benar. Aktivitas-aktivitas pembelajaran akan menempatkan kita pada posisi dan lingkungan yang dinamis. Kemampuan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah juga akan meningkat. Dengan sendirinya ini akan semakin memperkuat rasa percaya diri kita, menebalkan komitmen pencapaian tujuan, dan tentu saja menumbuhkan semangat.
Sebaliknya, jika kita sama sekali menolak aktivitas-aktivitas pembelajaran, komitmen akan semakin melemah, semangat turun, dan kemalasan akan datang dengan cepat. Pada titik ini, tujuan-tujuan, resolusi atau komitmen yang sudah kita buat sudah tidak memiliki arti lagi. Sayang sekali.
Pergaulan Dinamis
Para pemenang berkumpul dengan sesama pemenang, sementara para pecundang cenderung berkumpul dengan sesama pecundang. Ungkapan tersebut mengandung kebenaran. Sulit sekali bagi seorang pemalas untuk hidup di lingkungan para pemenang. Sulit bagi orang malas untuk berada secara nyaman di tengah-tengah orang yang sangat optimis, sibuk, giat bekerja, dan bersemangat mengejar prestasi. Demikian sebaliknya. Sulit sekali bagi para high achiever untuk betah berlama-lama dengan para orang malas dan pesimistik.
Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa enggan, apalagi negative thinking. Sepintas, berkeluh kesah dengan mereka dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan total.
Jika rasa malas mulai menyerbu kita, jangan berlama-lama duduk berdiam diri. Cara paling ampuh menghilangkan kemalasan adalah bangkit berdiri dan menghampiri orang-orang yang sedang tekun dan bersemangat melakukan sesuatu. Dekati mereka yang sedang bekerja keras untuk meraih impian-impiannya. Manusia-manusia optimis, self- motivated, punya ambisi, positive thinking, dan memiliki tujuan hidup pasti, umumnya memancarkan aura positif kepada apa pun dan siapa pun di sekelilingnya. Pancaran optimisme dan semangat itulah yang bisa menginspirasi orang lain, bahkan menularkan semangat yang sama sehingga orang lain jadi ikut tergerak.
Disiplin Diri
Ada sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya dari Andrie Wongso, Motivator No.1 Indonesia, yang bunyinya; "Jika kita lunak di dalam, maka dunia luar akan keras kepada kita. Tapi jika kita keras di dalam, maka dunia luar akan lunak kepada kita". Kata-kata mutiara yang luar biasa ini menegaskan, bahwa jika kita mau bersikap keras pada diri sendiri, dalam arti menempa rasa disiplin dalam berbagai hal, maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik. Sikap keras pada diri sendiri atau disiplin itulah yang umumnya membawa kesuksesan bagi karir para olahragawan dan pekerja profesional yang memang menuntut sikap disiplin dalam banyak hal. Bayangkan, bagaimana seorang atlet bisa menjadi juara jika dia tidak disiplin berlatih? Bagaimana mungkin ada pekerja profesional yang bagus karirnya jika dia sering mangkir atau bolos kerja?
Sebaliknya, jika kita terlalu lunak atau memanjakan diri sendiri, memelihara kemalasan, mentolerir kinerja buruk, tidak merasa bersalah jika lalai atau gagal dalam tugas, maka dunia luar akan sangat tidak bersahabat. Olahragawan yang manja pasti tidak akan pernah jadi juara. Seorang sales yang malas tidak akan pernah besar penjualannya. Seorang konsultan yang menolerir kinerja buruk pasti ditinggalkan kliennya. Dan pekerja yang tidak disiplin pasti mudah jadi sasaran PHK. Jika kita lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras pada kita.
Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas.
Sumber : www.e-smartschool.com
Label:
Motivasi
09 April 2009
Memilih Jurusan Komputer
Pak, setelah lulus nanti saya mau kuliah ambil jurusan komputer, menurut Pak Andi Jurusan Komputer apa yang cocok buat saya dan Perguruan Tinggi mana yang bagus jurusan komputernya? Biayanya bagaimana?
Kurang lebih begitu kebanyakan siswa-siswa bertanya kepada saya :)
Sebentar lagi merupakan musim pendaftaran mahasiswa baru bahkan beberapa perguruan tinggi sudah ada yang membuka pendaftaran. Nah.. mengingat banyaknya pilihan jurusan komputer yang ada di perguruan tinggi saya ingin memberi penjelasan singkat tentang jurusan-jurusan tersebut.
Semua jurusan (program studi) sebenarnya memiliki mata kuliah yang boleh dikatakan “sama”, hanya pembobotannya berbeda. Bobot inilah yang nantinya menentukan jalur karier dan bidang kerja lulusan. Kompetensi lulusan setiap jurusan biasanya di desain seperti di bawah:
Kurang lebih begitu kebanyakan siswa-siswa bertanya kepada saya :)
Sebentar lagi merupakan musim pendaftaran mahasiswa baru bahkan beberapa perguruan tinggi sudah ada yang membuka pendaftaran. Nah.. mengingat banyaknya pilihan jurusan komputer yang ada di perguruan tinggi saya ingin memberi penjelasan singkat tentang jurusan-jurusan tersebut.
Semua jurusan (program studi) sebenarnya memiliki mata kuliah yang boleh dikatakan “sama”, hanya pembobotannya berbeda. Bobot inilah yang nantinya menentukan jalur karier dan bidang kerja lulusan. Kompetensi lulusan setiap jurusan biasanya di desain seperti di bawah:
- Sistem Komputer atau Teknik Komputer, diharapkan menghasilkan lulusan yang mampu mendesain dan mengimplementasikan sistem yang terintegrasi baik software maupun hardware
- Teknik Informatika atau Ilmu Komputer, diharapkan menghasilkan lulusan dengan kemampuan yang cukup luas dimulai dari penguasaan teori (konsep) dan pengembangan software.
- Sistem Informasi atau Manajemen Informatika, diharapkan menghasilkan lulusan yag mampu menganalisa kebutuhan (requirement) dan proses bisnis (business process), serta mendesain sistem berdasarkan tujuan dari organisasi
- Information Technology, diharapkan menghasilkan lulusan yang mampu bekerja secara efektif dalam merencanakan, mengimplementasikan, mengkonfigurasi dan memaintain infrastruktur teknologi informasi dalam organisasi.
- Software Engineering, diharapkan menghasilkan lulusan yang mampu mengelola aktifitas pengembangan software berskala besar dalam tiap tahapannya (software development life cycle).
Lha pak, kalo saya lulusan TKJ itu cocoknya ngelanjutin kemana? trus temen saya yang sekolah di SMK lain ada yang ambil jurusan Multimedia dan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) itu sebaiknya ambil jurusan apa nanti di perguruan tinggi?
Untuk lulusan jurusan TKJ saran saya sebaiknya masuk ke jurusan Sistem Komputer atau Teknik Komputer atau Information Technology (lihat no 1 dan 4) kemudian jurusan Multimedia dan RPL atau lainnya silahkan sesuaikan dengan pilihan jurusan diatas.
Nah... sekarang kalo munurut Pak Andi perguruan tinggi mana yang bagus? (fasilitas, dosen, biaya dll)
Jawabannya Relatif... tetapi kalo menurut saya semua perguruan tinggi di Jogja yang membuka jurusan komputer rata-rata bagus. Kembali lagi nanti ke mahasiswanya, jika kamu kreatif selalu tidak puas mendapatkan ilmu dari dosen kemudian mencari sendiri sumber informasi, tanya ke teman atau orang yang lebih pintar dijamin kamu menjadi mahasiswa jempolan ;) akibatnya kamu lulus dengan cepat bahkan mendapat predikat cumlot ;) dan banyak perusahaan yang mencari kamu.
Beberapa perguruan tinggi di Jogja yang membuka jurusan komputer (maaf, saya tidak hafal):
- Universitas Gajah Mada (UGM)
- Universitas Islam Indonesa (UII)
- Universitas Ahmad Dahlan (UAD)
- Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY)
- Universitas Islam Negeri (IAIN)
- Universitas PGRI
- Universita Janabadra
- STMIK AKAKOM
- STMIK AMIKOM
- Institut Akprind
Mudah-mudahan ini bisa menjawab pertanyaan kalian semua. Jangan lupa persiapkan dahulu Ujian Nasional mu belajar lebih giat lagi setelah UNAS baru fokus mencari perguruan tinggi.
Saya doakan semoga kamu semua lulus Ujian Nasional dengan hasil yang memuaskan.... Amin3x
Selamat berdjoeang...!
Baca ini juga:
1. Computing Curricula
2. ACM (the Association for Computing Machinery),
3. The Association for Information System (AIS)
4. IEEE-CS (the IEEE Computer Society)
5. APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer)
6. Romi Satria Wahono
~
Saya doakan semoga kamu semua lulus Ujian Nasional dengan hasil yang memuaskan.... Amin3x
Selamat berdjoeang...!
Baca ini juga:
1. Computing Curricula
2. ACM (the Association for Computing Machinery),
3. The Association for Information System (AIS)
4. IEEE-CS (the IEEE Computer Society)
5. APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer)
6. Romi Satria Wahono
~
Label:
Pencerahan
06 April 2009
E-Learning Portal
Di tahun 2009 ini saya dan teman-teman JIS-DIJ mendapat proyek pekerjaan membuat e-learning untuk kantor Dinas Pendidikan Provinsi DIY (www.jogjabelajar.org), Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta (www.jogjacerdas.org) dan BTKP Dinas Pendidikan Provinsi DIY dan ini merupakan ketiga kalinya BTKP membuat E-Learning.
Seperti yang sudah-sudah biasanya dalam membuat e-learning dibutuhkan waktu yang sangat panjang karena melibatkan banyak orang dalam mengerjakan. Setiap orang memiliki job description berbeda-beda sebut saja GBIPM bertugas memilih materi pelajaran yang akan disajikan. Storyboard bertugas membuat urut-urutan dalam mengajar, keahlian memvisualisasikan gambar dan animasi diperlukan untuk job description ini. Pengkaji Materi bertugas mengkaji kembali materi pelajaran apakah sudah sesuai dengan kurikulum saat ini. Pembuat Program bertugas membuat atau memasukkan konten pelajaran yang sudah berbentuk Storyboard ke aplikasi E-Learning (moodle). Draftmen Produksi bertugas membantu pembuat program menyiapkan gambar, icon, animasi atau potongan video. Pengkaji Media bertugas memeriksa/mengkaji hasil pekerjaan pembuat program, memberi saran perbaikan bila ditemui ketidak sesuaian dengan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis ICT.
Tahap selanjutnya adalah sosialisasi dan pelatihan cara menggunakan e-learning tersebut. Sampai disini tentunya pekerjaan belum selesai karena kita perlu masukan dari pengguna e-learning tersebut yaitu siswa dan guru. Bebarapa permasalahan akan timbul dan ini membuat kita selalu mengupdate atau memperbaiki kesalahan materi pelajaran jika ditemukan.
Tentunya jika kita ingin membangun e-learning tidak harus menggunakan atau melibatkan banyak orang seperti diatas. Beberapa job description bisa dikerjakan oleh 1 orang saja, semua kembali ke kebutuhan kita dalam membangun e-learning. Seperti yang saya lakukan di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta yang khusus menangani e-learning hanya 2 orang, Guru hanya ditugaskan menyiapkan materi pelajaran dalam bentuk dokumen Ms Word, Pdf, Video, Animasi dan Presentasi kemudian file-file tersebut kita olah kembali agar dapat dimasukkan ke web aplikasi e-learning (moodle). Guru yang tertarik dalam pengelolaan e-learning kita sediakan login khusus agar Guru tersebut dapat berkreasi dengan e-learningnya.
Tertarik bikin E-Learning Portal? ikuti terus artikel ini..
Seperti yang sudah-sudah biasanya dalam membuat e-learning dibutuhkan waktu yang sangat panjang karena melibatkan banyak orang dalam mengerjakan. Setiap orang memiliki job description berbeda-beda sebut saja GBIPM bertugas memilih materi pelajaran yang akan disajikan. Storyboard bertugas membuat urut-urutan dalam mengajar, keahlian memvisualisasikan gambar dan animasi diperlukan untuk job description ini. Pengkaji Materi bertugas mengkaji kembali materi pelajaran apakah sudah sesuai dengan kurikulum saat ini. Pembuat Program bertugas membuat atau memasukkan konten pelajaran yang sudah berbentuk Storyboard ke aplikasi E-Learning (moodle). Draftmen Produksi bertugas membantu pembuat program menyiapkan gambar, icon, animasi atau potongan video. Pengkaji Media bertugas memeriksa/mengkaji hasil pekerjaan pembuat program, memberi saran perbaikan bila ditemui ketidak sesuaian dengan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis ICT.
Tahap selanjutnya adalah sosialisasi dan pelatihan cara menggunakan e-learning tersebut. Sampai disini tentunya pekerjaan belum selesai karena kita perlu masukan dari pengguna e-learning tersebut yaitu siswa dan guru. Bebarapa permasalahan akan timbul dan ini membuat kita selalu mengupdate atau memperbaiki kesalahan materi pelajaran jika ditemukan.
Tentunya jika kita ingin membangun e-learning tidak harus menggunakan atau melibatkan banyak orang seperti diatas. Beberapa job description bisa dikerjakan oleh 1 orang saja, semua kembali ke kebutuhan kita dalam membangun e-learning. Seperti yang saya lakukan di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta yang khusus menangani e-learning hanya 2 orang, Guru hanya ditugaskan menyiapkan materi pelajaran dalam bentuk dokumen Ms Word, Pdf, Video, Animasi dan Presentasi kemudian file-file tersebut kita olah kembali agar dapat dimasukkan ke web aplikasi e-learning (moodle). Guru yang tertarik dalam pengelolaan e-learning kita sediakan login khusus agar Guru tersebut dapat berkreasi dengan e-learningnya.
Tertarik bikin E-Learning Portal? ikuti terus artikel ini..
Label:
E-Learning
21 Maret 2009
Facebook (si wajah buku)??
Siapa yang tidak kenal dengan situs jejaring sosial ini, popularitasnya boleh dibilang sudah mengalahkan Friendster. Boleh jadi anda tadinya tidak suka dengan situs jejaring sosial semacam ini. Tetapi dengan tidak sengaja pula mungkin sekarang anda sudah menjadi anggota Facebook. Apa kelebihan Facebook dibandingkan dengan situs jejaring sosial yang lain? Kelebihan yang paling utama adalah Facebook memiliki library API (application programming interface) sehingga memungkinkan para developer untuk membuat aplikasi mini atau widget yang nantinya bisa dipasang atau digunakan di Facebook itu sendiri. Berbeda dengan Friendster yang membutuhkan waktu yang amat lama untuk mengeluarkan suatu fitur baru, library API ini memungkinkan para developer untuk berkreasi sehingga secara tidak langsung membuat Facebook makin populer dan Facebook juga sangat user friendly.
Apakah Facebook bermanfaat buat anda?
Menurut pendapat pribadi saya... sekali lagi pendapat pribadi saya ya... situs-situs jejaring sosial tidak lebih hanya membuat kita semakin narsis saja he he he sori kalo tersinggung. Banyak waktu habis terbuang hanya dengan mengupdate profil pribadi menambah teman dan lain sebagainya. Waktu kita terbuang percuma hanya dengan kegiatan seperti itu, sementara pekerjaan kita sudah banyak menumpuk. Fenomena musiman, sebelum Facebook terkenal seperti sekarang ini Friendster juga telah sukses menjadi situs jejaring sosial. Konon Facebook lebih sukses karena tidak mudah dihack dan memiliki library API seperti dijelaskan diatas.
Facebook cocok buat siapa?
Seperti sekarang ini negara kita akan menyelenggarakan pamilu Facebook sangat cocok untuk menarik massa (bagi calon presiden atau caleg) kemudian untuk public relation dan memasarkan produk atau promosi (bagi pebisnis), dan tentunya bagi mereka yang mencari kesenangan semata di dunia maya. Bagi yang belum punya jodoh atau pasangan bisa memanfaatkan situs ini. Bagaimana dengan Guru/Siswa apakah bisa memanfaatkan Facebook sebagai alat bantu mengajar? Jawabannya mungkin saja bisa tergantung bagaimana kita mengemasnya. Bukankah sudah ada situs yang khusus digunakan untuk pendidikan, misalkan saja ThinkQuest dari Oracle Foundation.
Belakangan ini Facebook memang menjadi suatu epidemi di kalangan para pengguna internet. Sebelumnya, saya mengira yang lagi menjamur adalah handphone "BlackBerry" tapi di balik itu ternyata ada fenomena yang lain yaitu handphone "BlackBerry" itu dibeli demi bisa bermain "Facebook".
Sekarang ini rasanya jadi malu-maluin kalau nggak punya account Facebook. Nggak gaul... Kuno... gaptek... nggak zaman. Sekarang zamannya Facebook. Semua harus punya mulai dari kalangan remaja, selebritis, om-om, mbak-mbak, bapak-bapak, ibu-ibu rumah tangga, kakek-nenek hingga anak-anak SD.
Cukup sekian dulu ngomongin Facebooknya!!!
Apakah Facebook bermanfaat buat anda?
Menurut pendapat pribadi saya... sekali lagi pendapat pribadi saya ya... situs-situs jejaring sosial tidak lebih hanya membuat kita semakin narsis saja he he he sori kalo tersinggung. Banyak waktu habis terbuang hanya dengan mengupdate profil pribadi menambah teman dan lain sebagainya. Waktu kita terbuang percuma hanya dengan kegiatan seperti itu, sementara pekerjaan kita sudah banyak menumpuk. Fenomena musiman, sebelum Facebook terkenal seperti sekarang ini Friendster juga telah sukses menjadi situs jejaring sosial. Konon Facebook lebih sukses karena tidak mudah dihack dan memiliki library API seperti dijelaskan diatas.
Facebook cocok buat siapa?
Seperti sekarang ini negara kita akan menyelenggarakan pamilu Facebook sangat cocok untuk menarik massa (bagi calon presiden atau caleg) kemudian untuk public relation dan memasarkan produk atau promosi (bagi pebisnis), dan tentunya bagi mereka yang mencari kesenangan semata di dunia maya. Bagi yang belum punya jodoh atau pasangan bisa memanfaatkan situs ini. Bagaimana dengan Guru/Siswa apakah bisa memanfaatkan Facebook sebagai alat bantu mengajar? Jawabannya mungkin saja bisa tergantung bagaimana kita mengemasnya. Bukankah sudah ada situs yang khusus digunakan untuk pendidikan, misalkan saja ThinkQuest dari Oracle Foundation.
Belakangan ini Facebook memang menjadi suatu epidemi di kalangan para pengguna internet. Sebelumnya, saya mengira yang lagi menjamur adalah handphone "BlackBerry" tapi di balik itu ternyata ada fenomena yang lain yaitu handphone "BlackBerry" itu dibeli demi bisa bermain "Facebook".
Sekarang ini rasanya jadi malu-maluin kalau nggak punya account Facebook. Nggak gaul... Kuno... gaptek... nggak zaman. Sekarang zamannya Facebook. Semua harus punya mulai dari kalangan remaja, selebritis, om-om, mbak-mbak, bapak-bapak, ibu-ibu rumah tangga, kakek-nenek hingga anak-anak SD.
Cukup sekian dulu ngomongin Facebooknya!!!
Label:
Opini
Langgan:
Entri (Atom)

